Puncak Upacara Adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo telah digelar Kamis 5 Februari 2009 di Halaman Masjid Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak Sleman yang disaksikan ribuan pengunjung dari berbagai wilayah. Hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Drs. Dwi Supriyatno, MS mewakili Bupati Sleman, Camat Ngemplak Dra. Endang Widowati, para kepala desa se Kecamatan Ngemplak, serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Acara dipimpin oleh Sesepuh Trah Ki Ageng Wonolelo H. Heru Effendi Ali Basyah.
Sebagai pembuka acara ditampilkan tarian gambyong dilanjutkan dengan sambutan panitia, sambutan Bupati Sleman dan pembacaan riwayat singkat perjuangan Ki Ageng Wonolelo. Ketua Panitia Tony Haryono mengatakan bahwa maksud dan tujuan dilaksanakannya Upacara Adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo adalah untuk melestarikan sejarah perjuangan Ki Ageng Wonolelo serta mengambil suri tauladan atas perjuangannya. Sementara itu Bupati Sleman dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs. Dwi Supriyatno, MS mengatakan bahwa Upacara Adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo merupakan wahana yang strategis dalam upaya menanamkan dan melestarikan budaya bangsa yang adiluhung kepada masyarakat khususnya generasi muda. Diharapkan generasi mendatang dapat lebih mencintai budaya bangsa sendiri dari pada budaya asing. Karena melalui budaya dapat membangun jati diri bangsa yang merupakan aset berharga bagi pembangunan bangsa.
Usai pembacaan riwayat singkat perjuangan Ki Ageng Wonolelo dilanjutkan dengan pertunjukan fragmen dengan lakon “Tumetesing Embun Ing Lemah Cengkar”. Dalam fragmen ini Syeh Jumadil Qubro usai melalukan laku prihatin di Gunung Turgo memberikan wejangan dan pelajaran kepada kedua cucunya yakni Syeh Jumadi Geno yang kemudian dikenal dengan Ki Ageng Wonolelo dan Syeh Wasiba Geno yang kemudian dikenal dengan Ki Ageng Gribig.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan “Obor Suci” oleh Sesepuh Trah H. Heru Effendi Ali Basyah kepada Bregada Kirab Tupanto Purwokasem. Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo dimulai dari Grup Drum Band SMPN I Ngemplak, kerabat dan anak cucu Ki Ageng Wonolelo, Bregada Prajurit, gunungan apem dan pusaka atau peninggalan Ki Ageng Wonolelo yaitu Kitab Suci Al Qur’an, Baju Ontro Kusumo, Kopyah, Bandil dan tongkat (teken).
Kirab dilakukan sepanjang satu kilometer menuju Makam Ki Ageng Wonolelo yang kemudian dilakukan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustad Zumroddin. Tahlil dan doa berlangsung sangat khikmat. Usai doa bersama kemudian dilakukan perebutan gunungan apem oleh para pengunjung dilanjutkan penyebaran apem seberat satu ton kepada pengunjung. Suasana begitu semarak, karena ribuan pengunjung yang memadati halaman makam saling berebut apem yang dilempar oleh trah Ki Ageng Wonolelo dari menara penyebaran apem. Saling lempar apem pun terjadi diantara pengunjung dan trah. Hal ini menggambarkan bahwa diantara mereka secara sadar saling memberikan ampunan atas kesalahan-kesalahan yanag diperbuat. Karena dalam kata “apem” terkandung makna atau simbol dari ampunan atau pemberian maaf.sumber;www.tourismsleman.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar